| KIsah Aziz Penghuni De Pröttel |
|
|
| Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo | |
| Selasa, 11 November 2008 | |
![]() Bagian samping Gedung Brantas Koran berbahasa Belanda pertama di Surabaya yang bernama Soerabaiasch Handelsblad (1865-1942) pernah berkantor di gedung yang dulu bernama De Prottel ini. Didirikan oleh kongsi usaha dagang Andreas Heinrich Pröttel & Co yang dibangun pada tahun 1912. Pada 1930 digunakan sebagai redaksi koran berbahasa belanda Soerabaiasch Handelsblad, Kemudian juga menjadi kantor redaksi koran De Zweeb juga menempati bangunan ini. Pada masa Jepang, Soerabaiasch Handelsblad, ditutup dan berubah menjadi Soeara Asia, satu satunya koran di Jawa Timur masa Jepang. Paska 1945, Soerabaiasch Handelsblad, dihidupkan kembali. Sampai kemudian pada 1950 koran berbahas Belanda ini dilarang terbit, kelak semua ini menjadi cikal bakal lahirnya Surabaya Post. Tersebutlah nama A Azis dalam masa masa koran mati dan lahir dari gedung ini. Dia salah satu wartawan Soeara Asia. Dia kemudian mencicipi sebagai wartawan Soerabaiasch Handelsblad. Kelak di tempat yang sama pascakemerdekaan, A Azis merintis berdirinya Surabaya Post ketika korannya bernaung dilarang terbit. Azis bukannya, mengangkat senjata ketika perang besar 10 November meletus. Dia justru hunting mencari berita di Surabaya yang dicetak dan dikirimkan ke daerah pengungsian di Mojokerto hingga Jombang. Belakangan berkat perjuangan Azis-lah catatan perang Surabaya diketahui dunia. “Dalam sejarahnya, sejumlah pejuang negeri adalah juga berprofesi rangkap sebagai wartawan,” terang pemerhati pers Oei Him Hwe. Wartawan Trompet Rakjat ini menyimpan sejumlah surat kabar bersejarah. Pahlawan itu I antaranya Dr Soetomo yang mendirikan Soeara Oemoem sebagai corong Partai Bangsa Indonesia (PBI) tahun 1930. Selain itu, majalah agitasi Kalwarti Minggon Basa Djawa (Majalah Mingguan Bahasa Jawa) Panjebar Semangat juga dilahirkan, majalah ini masih terbit hingga sekarang. Kantor redaksinya tidak pernah pindah sejak berdiri yaitu di samping utara Pendopo Gedung Nasional Indonesia (GNI). Jika Anda sempat mampir ke gedung ini, tentu bisa melihat sebuah mesin percetakan kuno yang menjadi saksi perjalanan sejarah persuratkabaran. Di tempat ini juga lahir seorang jurnalis pejuang yang luput dari catatan sejarah. Namanya Raden Tahir Tjindarboemi. Wartawan lulusan Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) pernah bekerja di SoearaOemoem setelah menjadi wartawan di koran berbahasa Belanda De Indische Courant. Tjindareboemi sempat dijebloskan ke penjara Kalisosok ketika menulis artikel tentang pemberontakan Kapal Zeven Provincien atau lebih dikenal dengan Pemberotakan Kapal Tujuh. Peristiwa ini terjadi di Perairan Surabaya, Januari 1933. Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto sempat mendirikan Oetoesan Hindia. ![]() mozaik kaca di gedung Brantas yang masih tersisa Bung Tomo terakhir menjabat Pimpinan redaksi kantor berita Domei yang berubah menjadi Antara. Pejuang yang juga motor Muhammadiyah, KH Mas Mansur juga menjadi salah satu wartawan produktif. Dia melahirkan surat kabar dan majalah berbahasa Jawa Pegon Djinem, Soeara Santri, Kawan Kita Jang Toeloes, juga menjadi redaktur beberapa surat kabar yang terbit di empat kota besar. Siaran dan Kentongan (Surabaya), Adil (Solo), Pengandjoer dan Islam Bergerak (Jogjakarta), Pandji Islam dan Pedoman Masjarakat (Medan).
|
| < Sebeloemnja | Berikoetnja > |
|---|