Tjinderamata Soerabaia jang paling tersohor
Moeka
Desa Bungkul Yang Tergusur PDF E-mail
Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo   
Senin, 06 Oktober 2008

bungkul
foto: ahmad haq
Masjid Rahmat di Kembang Kuning memang diyakini menjadi lokasi pertama yang disinggahi Raden Rahmat dari Trowulan ke Ampel Denta 600 tahun silam. Namun, versi lain menyebut Rahmat mampir dulu ke desa Bungkul, sebelum ke Kembang Kuning, kemudian menuju Peneleh. 

Perjalanan itu berakhir di desa Ampel. Desa Bungkul? Bentuk Desa Bungkul masih saya temukan di peta Surabaya terbitan 1872. Bahkan, dalam peta Surabaya 1900, desa ini tampak luas dan dipenuhi sawah di bagian barat. Perkampungannya berada di sisi timur Kalimas. Batas selatan desa adalah di persimpangan jalan Marmoyo sekarang. Batas sebelah timur di Jl Adityawarman sekarang, dan sebelah utara dibatasi dengan Kampung Dinoyo.

Ada nama Desa Darmo di utara Desa Bungkul saat itu. Namun, pada 1920-an, Desa Bungkul dan desa Darmo tergusur untuk proyek prestisius 'kota atas' perumahan kaum elite Belanda, Darmo. Luasnya 230 hektare.

Namun, Belanda tidak berani menggusur kampung ini seluruhnya. Proyek ini menyisakan sepetak kebun yang sekarang dikenal dengan nama Kompleks Taman Bungkul.
Nama taman yang baru dipermaks itu kenyataannya lebih tersohor ketimbang nama Sunan Bungkul dan makamnya yang dikurung tembok di balik taman. Nyaris tidak ada orang Surabaya yang menengok makam ini sekarang.

“Saya kok tidak tahu kalau di balik tembok itu ada makam, saya kira bagian dari Taman Bungkul,” kata Hardian, siswa SMA yang bersantai di Taman Bungkul kemarin.

Di dalam kompleks makam, kerumunan peziarah yang datang tampaknya bukan dari Surabaya. Logatnya kebanyakan dari daerah mataraman atau setidaknya penduduk pesisir. “Kami baru dari Sunan Ampel, rombongan ada yang minta mampir ke Sunan Bungkul sebelum ke Masjid Agung,” kata Acmad Halim, rombongan warga Pekalongan yang kemarin mengakhiri ziarah Wali Songo di Surabaya.

Siapa sebenarnya sosok sunan yang dimakamkan di Bungkul itu? Kisahnya tidak pernah menjadi mainstream cerita wali yang selalu didominasi kiprah sembilan wali. Jika sehari-hari makam ini ramai, itu sekadar menjadi objek ziarah pelengkap, setelah puas bertakziah ke makam Ampel.

Nama Mbah Bungkul hanya ditemukan sekilas di catatan lawas Babad Ngampeldenta terbitan 2 Oktober 1901 yang naskah aslinya bisa dilihat di Yayasan Panti Budaya Jogjakarta. Kecuali itu, juga ada Babad Risakipun Majapahit, Wiwit Jumenengipun Prabu Majapahit Wekasan Dumugi Demak Pungkasan yang disimpan di Perpustakaan Reksopustoko Surakarta.

Sulitnya menemukan sosok ini bahkan dibenarkan sejarahwan berdarah Belanda era 1940-an mendiang GH Von Faber. Pendiri Museum Empu Tantular ini di dalam bukunya, Oud Soerabaia, (1931) mencatat kesan Bungkul dalam bahasa Belanda yang kira-kira terjemahannya demikian: “Orang-orang tua melarang menceritakan apa pun tentang Bungkul ini. Pelanggaran terhadap larangan itu pasti diganjar hukuman.

 Si pelanggar akan diancam oleh jin, diisap darahnya oleh kelelawar, lehernya dipelintir dan sebagainya, demikian pula ibu, istri, dan anak-anaknya akan mendapatkan celaka”.

Masih banyak ancaman mengerikan yang ditulis Von Faber. Saat ini, paling banter mendapat penjelasan bahwa sosok ini adalah keturunan Ki Gede atau Ki Ageng dari Majapahit. Lebih dari itu tidak ada. Saya menjahit sejumlah cerita lisan dari kisah sunan ini yang versinya bermacam-macam. Namun, yang menarik adalah kaitannya dengan Rahmat Sang Sunan yang tinggal di Ampeldenta.

 
< Sebeloemnja   Berikoetnja >
 

Koleksi Atjak


614


602


Mug 001


645


p01


631


05


P7


Tjorong Pelanggan


Soeara Pelanggan, Soeara Radja