Tjinderamata Soerabaia jang paling tersohor
Moeka arrow Pelesiran arrow Gedung berkubah De Pröttel
Gedung berkubah De Pröttel PDF E-mail
Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo   
Senin, 08 Desember 2008

Image
Tampak depan Gedung Brantas
Saksikanlah sisa kemegahan Surabaya abad lampau di gedung berkubah kembar di Jl Pahlawan 116. Inilah gedung perkantoran dengan arsitektur paling cantik dari sisa-sisa kejayaan Hindia Belanda abad 18.

Gedung ini terdiri dari dua lantai. Bentuknya simetris. Modelnya mirip bangunan Bank BI di perempatan Malioboro Jogjakarta. Namun yakinlah bangunan ini lebih indah dari kembarannya. Karena di gedung BI Jogja menjiplak bangunan ini yang berdiri 20 tahun lebih dulu.  Sayang kondisinya kini tidak terawat.  

 

 

Masuklah di pintu utama di bawah separuh kubah. Lantai satu hampir tanpa sekat. Mirip sebuah hall. Los hingga di pintu belakangan. saya melihat ada kamar kamar di samping kanan. Di pojokan terdapat lemari besi seukuran minibus. Di separo lantai bagian belakangan pengunjung bisa mendongak ke atas untuk melihat lantai dua. Di bagian ini ada semacam atrium karena dari lantai dua bisa melihat ke bawah dengan dikelilingi pagar besi cor bermotif.

Sementara itu di tengah tengah hall ini terdapat besi-besi cor raksasa ditancapkan untuk menjadi pilar menopang lantai dua yang berat. Sekarang mari bersama saya naik ke lantai dua melalui tangga di sisi kanan pintu masuk. Parcayalah setiap orang yang berkesempatan masuk akan berdecak kagum dengan keindahan bangunan ini. tanggal itu berlantai kayu jati. Pagar tangga dari besi cor, ukirannya rumit namun artistik. sementara dan pegangan tangga dari kuningan yang kokoh.

Image
Balkon unik di bagian samping
Ternyata di dari lantai dua terdapat ruangan-rungan. ada empat ruangan yang berdiri simetris persis di atas hall. Lantainya dari kayu jati. Setiap orang yang datang pasti bisa melihat pemandangan sekeliling gedung karena ada banyak sekali balkon alias teras kecil di depan pintu luar yang artistik.

Ada satu kamar yang bersejarah. Yaitu di ujung tangga. Di tempat ini seorang wartawan pejuang, Abdoel Azis, sempat berkantor di dalamnya. Sebagai wartawan pejuang, nama A Azis diabadikan sebagai nama Aula Kantor PWI di Jalan Taman Apsari.

Saya menyusuri tangga berukir cor menuju lantai dua. Di mulut tangga, bekas ruang A Azis masih ada lampu gantung bulat. Ada tiga ruangan serupa di lantai ini yang semuanya dilengkapi balkon berpagar besi berukir. Nah di bagian belakang inilah terdapat selasar berpagar besi berukir yang bisa melongok ‘atrium’ lantai satu.

Sebagian besar lantai satu digunakan ruang terbuka. sejak 1950 hingga 2006  menjadi bursa koran dan majalah. Kini dirombak oleh Pemrov Jatim untuk kantoir badan penanaman modal. Puluhan tahun bangunan ini tidak terawat. status kepemilikannya tidak pasti. sengketa di pengadilan juga berkali-kali terjadi.

Namun gedung ini tidak hanya unik pada bentuknya. Cerita-cerita yang mewarnainya juga tidak kalah unik. Ikuti kisahnya di catatan saya berikutnya tentang gedung ini.

 
< Sebeloemnja   Berikoetnja >
 

Tjorong Pelanggan


Soeara Pelanggan, Soeara Radja