| Gudang Minuman Seluas Bioskop |
|
|
| Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo | |
| Sabtu, 14 Februari 2009 | |
![]() Jalan yang masih belum diaspal. Tahun 1910 Yang paling menakjubkan adalah kehadiran gudang tersendiri untuk menyimpan minuman keras sebagai pelengkap hangatnya pesta di Simpangsche Societeit. Gudang itu berdiri di sebelah utara gedung berkubah. Luasnya menyamai gedung berkubah ini sendiri. Bisa dibayangkan berapa banyak botol dan galas minuman yang simpan untuk memenuhi kebutuhan pesta tiap akhir pekan tersebut. Sekarang tentu tidak akan menemukan gudang minuman keras tersebut. Seratus tahun berselang, hanya sebagian isinya yang tersisa puluhan gelas dan perangkat pesta minum keras masih meninggalkan kerak alkohol di bibirnya. Seluruhnya adalah perangkat jamuan sampanye (champagne), minuman sari anggur putih yang hadir pada perayaan-perayaan khusus dengan gengsi tertinggi. ![]() Hall utama untuk pesta besar yang dibangun 1920 Gelas sampanye yang lain disebut flute. Bentuknya sempit dan memanjang ke atas. Kedua gelas itu mempunyai tangkai yang panjang. Konon, supaya panas dari tangan orang yang memegang gelas itu tidak cepat dihantarkan ke bagian sampanye yang dingin. "Pada 1980-an masih ditemuan beragam jenis botol wine dan sampanye yang khusus datang dari Eropa," kata kapala UPTD Balai Pemuda Nirwana Juda. Menurutnya botol yang berukuran kecil (quarter bottle), cukup untuk dua orang. Ada juga Magnum yang setara dengan dua botol biasa. Botol sampanye setera 20 botol (nebuchadnezzar), setara dengan 20 botol biasa. ukuran balthazar yang setara dengan 16 botol biasa. Sekarang, kata Juda, perangkat minum itu hanya tersisa puluhan yang disimpan di dua lemari kaca. Pengelola Balai Pemuda juga masih menyimpan dua piano kuno yang menghuni gedung ini sejak pertama dibangun. Yaitu piano tahun 1817 dan piano 1908. "kami baru saja merestorasi dua piano ini dengan dana yang tidak sedikit," kata Juda. Dimana bekas gudang minuman itu? pascakemerdekaan sempat beralih fungsi menjadi Sub Direktorat Perekonomian Surabaya, juga menjadi unit terminal angkutan umum Surabaya. Namun sejak 1977 gedung ini dirobohkan. Di atasnya kemudian berdiri Bioskop Mitra. Padahal arsitektur bekas gudang itu tidak kalah antik dengan atap pelana dan penopang baja bulat. Seberapa luas gudang itu? tentu saja sebesar dan seluas gedung bioskop Mitra. *** ![]() Jamuan dengan AL Jepang 1932 di Hall Utama ![]() Hall utama tahun 2009 tidak banyak berubah Diantara dapur dan gudang minuman, sempat berdiri hall olahraga permainan. Bentuk gedungnya mirip bangunan Balai Pemuda bagian barat, ada selasar dan atap tinggi, tetapi tidak dilengkapi panggung. Di dalamnya ada jenis olahraga yang paling tersohor saat itu . Yaitu permainan biliar bola tiga dan bowling bola kayu. Jenis olah raga yang terakhir ini bisa saya ceritakan karena saya memiliki koleksi foto 1920-an tentang permainan bowling bola kayu ini. foto itu dijepret pada 1910 di Societeit Concordia Soerabaia. Seluruh perlengkapannya, termasuk bola- terbuat dari kayu mulai bowling lane alias lantai bowling, hingga pin atau sasaran yang bentuknya mirip botol. Tidak ada mesin peletak pin otomatis atau mesin pembawa bola menuju sang pemain seperti fasilitas canggih bowling modern. Di foto itu digambarkan ada seorang pelayan yang berdiri di ujung tepat di belakang barisan pin. Jika bola sudah menyentuh pin dan pin berjatuhan. Dengan sigap sang pelayan mendirikan pin. ![]() Hall utama sisi selatan dengan interior yang berbeda Dua pohon trembesi raksasa mamayungi pelataran parkir tengah yang dilapisi marmer itu. Tidak ingin sinar matahari mencuri tempat untuk menusuk kulit, perancang melengkapi dengan membangun selasar yang menghubungkan antargedung gedung gedung ini Untuk memudahkan mengurus lingkungan Simpangsche Societeit, didirkan satu rumah pengurus yang sekarang menjadi halaman gedung DPRD Surabaya.
|
| < Sebeloemnja | Berikoetnja > |
|---|