|
KBS Pernah Nyaris Tutup Karena Tekor |
|
|
|
Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo
|
|
Kamis, 10 Desember 2009 |
 Kandang Orang Utan peninggalan zaman Belanda Siapa yang tidak kenal dengan Kebun Binatang Surabaya (KBS). Semua orang Surabaya pasti tahu tempat wisata rakyat ini. Namun siapa sangka jika kebun bintang di ujung selatan permukiman Darmo ini adalah kebun binatang tertua di Indonesia. Dalam perjalanannya pernah nyaris gulung tikar.
Jika dewasa ini KBS selalu dililit konflik kepengurusan, pecat memecat. Sebenarnya itu cerita lama yang terus berulang. Masalahnya juga klasik. soal uang. Ikuti kisah saya berikut.
Tidak ada prasasti yang menunjukan tanggal lahir KBS jika kita menyusuri area rindang di pojokan Jl Setail 1. “Yang kami tahu hanya KBS ini sudah berdiri sejak zaman Belanda, kapannya tidak tahu,” ujar Sugiono, seorang pekerja, Kamis (30/8).
Namun jika Anda rajin mengunjungi perpustakaan, tentu akan menemukan ‘akta kelahiran’ KBS. Saya membuka Staatblad van Nederlandsche Indie tahun 1918 di perpustakaan Pemkot Surabaya beberapa wakty lalu. Kumpulan kitab setebal bantal ini memang sudah rapuh, namun ada halaman yang mungkin belum pernah dibaca oleh penguruis KBS.
Selembar halaman di lembaran negara ini menjelaskan pengakuan terhadap sebuah perkumpulan satwa di Surabaya melalui surat keputusan No 40 pada 31 Agustus 1916 yang ditandatangani Gouverneur Generaal van Nederlandsche Indie, JP Graaf van Limburg Stirum.
Tulisannya berbahasa Belanda. Tentu terlalu panjang kalau saya kutip disini beserta artinya. Namun intinya, perkumpulan penghobi satwa di Surabaya ini diakui dalam lembaran negara semacam Undang Undang yang ditandatangani gubernur jenderal atau sekarang setingkat presiden RI.
Perkumpulan ini adalah cikal bakal KBS. Karena awalnya bukan sebuah tempat, namun kumpulan elite warga Hindia Belanda di Surabaya yang bernama Culturule Vereniging Planten en Dierentuin at Soerabaia (Perkumpulan pecinta botani dan binatang Surabaya. Red).
Perkumpulan ini dimotori wartawan, HFK Kommer, dan advokat tersohor JP Mooyman. Kegemaran memelihara satwa langka di rumahnya masing-masing ini yang membawa mereka memikirkan mendirikan sebuah kebun khusus yang berisi hawan dan tanaman langka. Ide ini mencontoh perkumpulan sejenis di Batavia yang memiliki kebun binatang di Tjikini sejak 1864. Namun tahun 1976 kebun binatang di Jakarta itu ditutup.
perkumpulan di Surabaya itu mulai berkembang pada 1916, saat Kommer Mooyman membeli tanah tegalan di daerah Kaliondo sebelah selatan stasiun Sidotopo. sejak saat itu membentuk kebun binatang pertama di Surabaya. Namanya Soerabaiasche Planten En Dierentuin (Kebun botani dan binatang Surabaya).
Luasnya tanahnya tidak lebih dari 0,5 hektare. Mooyman didaulat memimpin perkumpulan dengan didampingi sekretaris AH de Wildt. Dia dibantu tujuh bendahara yang dikomandoi P Egos. Tidak terdapat nama Kommer dalam susunan pengurus pertama KBS ini.
Namun kebun binatang di Kaliondo ini ternyata hanya bertahan setahun. Koleksi hewan dan tanamannya semakin bertambah. Biaya makanan dan perawatan bertambah Sementara tidak ada tiket masuk untuk menikmati satwa dan tanaman langka. Tetapi justru jumlah donaturnya ikut bertambah sehingga semua itu tidak masalah.
Akibat tempatnya yang semakin sempit, kebun binatang ini pindah lagi. Pada 28 September 1917 diresmikan kepindahannya ke sebuah pekarangan luas di Kampung Groedo di Jl Tamarindelan. menjadi kampung Jl Pandegiling.
Kebun binatang di Goedo ini masih bebas tiket masuk selama setahun. Namun ternyata biaya perawatan justru membumbung. Belakangan isi kasnya semakin menipis karena suntikan donatur tidak mengatasi. Sehingga sejak April 1918, kebun binatang ini pertamakali memungut tiket masuk.
Namun lagi lagi persoalan sempitnya lahan menjadi kendala. Belum dua tahun di Groedo, KBS ini kembali sesak dengan koleksinya dan para pengunjung.
Pada 1920 para pengurusnya berhasil merayu Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS) alias perusahaan tram uap Jatim untuk menyisihkan lahannya menjadi kebun binatang baru. OJS yang memiliki stasiun tram uap di Wonokromo menyerahkan sebagian lahannya seluas 15.000 meter persegi di sebelah utara stasiun.
 suasana yang asri dengan pohon pohon tua Pada 1921 KBS dimulai boyongan ke tempat baru. Sejak saat itu lah KBS menjadi kebun binatang terluas dan memiliki koleksi terlengkap di Hindia Belanda, tempat yang bertahan hingga sekarang.
***
Namun kebesaran KBS hanya di permukaan, setahun berselang, isi kantong KBS kering krotang. Pemasukan tiket tidak mampu mendongkrak, sementara para donatur semakin sedikit. Pada rapat anggota 21 Juli 1922, KBS dinyatakan krisis serius dan pilihannya adalah ditutup.
Sementara para pengurusnya semakin sibuk di luar KBS, diduga sejumlah pengurus menggepakan uang tiket masuk. Sejarah konflik kepengurusan KBS pertama kali muncul. Wacana penutupan KBS semakin santer. Namun sebagaian anggota perkumpulan menentang . Gementee van Soerabaia alias pemkot Surabaya bahkjan turun tangan, pemkot menolak penutupan.
Krisis keuangan menjadi krisis kepengurusan hingga berlarut-larut. bahkan sampai setahun. Pada 11 Mei 1923, rapat anggota digelar di Simpangshce Restaurant. rapat ini berlangsung panas. Semua tidak ada yang bertanggung jawab. Akhirnya rapat memecat kepengurusan perkumpulan di bawah JP Mooyman, sang pendiri KBS.
Dibentuklah pengurus baru yang dikomando WA Hompes. Semua khawatir Hompes tidak bisa dipercaya. Namun Hompes begitu total mengurus KBS, dia bahkan tinggal di dalam kebun dan mengurus segala aktivitas kebun. Hompes juga piawai melobi banyak sumber dana.
Dia sukses membujuk Burgemeester van Soerabaia alias Wali Kota Surabaya GJ Djikerman dan anggota dewan kota, A.Van Genrep agar pemerintah kota menjadi donatur utama KBS. Upayanya berhasil, dan KBS bisa bertahan hingga sekarang.
Namun konflik kepengurusan terus saja terjadi sampai kini. Masalah lain juga menghadang, warisan budaya ini terancam digusur ke luar kota. Karena lahannya yang strategis itu dilirik banyak investor properti. menera penintai, peninggalan yang bertahan
|