| Kisah Rumah Mungil di Sudut Peneleh |
|
|
| Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo | |
| Kamis, 23 Oktober 2008 | |
![]() Rumah bersejarah itu Namun sejatinya bentuk arsitektur rumah itu tidak pernah berubah sejak sejak berdiri kira kira 200 tahun silam. sungguh unik dan bersahaja. tetapi percayalah, dari bangunan mungil beratap pelana ini, sejarah pra Indonesia merdeka banyak diwarnai dari orang-orang yang pernah singgah didalamnya. Mari masuk... ! Rumah bersejarah ini berdiri di Peneleh VII nomor 48. berada di sebuah gang sepi. pengendara motor atau pengayuh sepeda harus turun dari kendaraanya jika ingin menyusuri gang ini. Selain sebuah bentuk takzim, turun dari motor di gang sempit juga bisa mengurangi kebisingan dan polusi. Ini sebenarnya adalah rumah Hadji Omar Said (HOS) Tjokroaminoto. Pahlawan yang kerap disebut di dalam buku buku sejarah. kisah sesungguhnya lebih herois dari buku buku sejarah itu. Pak Tjokro begitu dia akrab disapa, adalah motor organisasi massa pertama dan terbesar di Hindia Belanda, Sjarekat Islam (SI) setelah organisasi ini didirikan di Solo 1905. Namun saya masih tidak bisa membayangkan pada 1913 Pak Tjokro memimpin satu juta anggota SI dari penjuru negeri dari sebuah rumah yang seukuran tipe 36. Namun itulah daya tarik rumah ini. Begitu banyak orang yang singgah, bahkan indekos. Tidak sedikit yang kelak menjadi orang besar. Kisah yang paling fenomenel adalah tinggalnya Soekarno di rumah mungil ini, presiden pertama RI tercatat pernah ngenger pegar kayu cat hijau ini sejak 1917 hingga 1919. Saat itu dia berusia 16 tahun Bung Karno bahkan beberapa kali menyinggung kampung Peneleh di dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams. Sebenarnya Bung Karno tidak kebetulan bisa ngenger di tokoh politik paling top di zaman penjajahan itu. Sebab pada awal-awal abad lalu, keluarga Bung Karno tinggal di Pendean VI. kampung lawas yang jaraknya sekitar 500 meter dari Peneleh VII. Bapak Bung Karno, aden Soekemi Sosrodihardjo menitipkan anaknya ke Pak Tjokro ketika Bung Karno masuk sekolah tingkat SMA Hoogere Burger Scholl (HBS) di Kebonrojo. Sebab saat itu R Soekemi tinggal di Modjokerto. Saya berkesempatan masuk di rumah ini beberapa waktu lalu. Konstruksi bangunannya simetris. Masuk pintu utama yang ada di tengah bangunan langsung bisa melihat bagian belakang rumah. Sebelah kanan dari pintu masuk ada ruang tamu ukuran 5 meter persegi. di sebelah kiri ada kamar mungil berhampitan ke belakang.
Lantas dimana Bung Karno tinggal, ternyata ada ruangan di atas langit-langit rumah ini. Pintu masuknya bisa diakses dari tanggal besi di bagian belakang rumah. Ruangan itu memanjang dan pengap. Karena bersentuhan langsung dengan genting dan tyidak ada jendela. Namun kata sang penjaga, di ruangan inilah Bung Karno sering menyepi. Di rumah inilah Bung Karno pertamakali menikah, dengan Oentari, anak pak Tjokro yang masih bau kencur. Bung Karno di buku kesaksiannya menulis hingga cerai beberapa tahun sejak menikah, Oentari tidak pernah digauli karena belum menstruasi. Namun ketika Bung Karno menjadi presiden, Oentari dihadiahi rumah di pojokan Jl Ngagel Jaya Selatan. |
| < Sebeloemnja | Berikoetnja > |
|---|