| Mengikuti Perjalanan Pabrik Linting |
|
|
| Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo | |
| Selasa, 17 Februari 2009 | |
|
Inilah museum milik keluarga Sampoerna yang menyimpan jejak sejarah usaha. Ikuti perjalanan hidup Liem Seeng Tee, pendiri Rokok Sampoerna yang merangkak dari pedagang rokok keliling pada 1913 sampai menjadi imperium kerajaan bisnis rokok yang sekarang asetnya dimiliki raja rokok dunia Philiph Moris. Marilah masuk ke gedung berpilar empat berarsitektur neo klasik, bukalah pintunya, dan hirup aroma tembakau bercampur cengkeh yang segar. Aroma khas rokok kretek yang hanya ada di Indonesia. Di ruangan ini, lihatlah Liem mengawali usahanya dengan membuka warung kayu yang replikanya dipajang di ruang depan. Di dalam ruangan ini pengunjung bisa menyaksikan, sejumlah perabot peninggalan keluarga Liem, mulai lemari besi berukir, baju baju baju gaya China perantauan, meja kursi, kaca rias, foto perjalanan, sampai dokumen yang semuanya dari abad 19. Memasuki ruang dalam, pengunjung disuguhi benda-benda kuno berupa mesin cetak slinder untuk membuat kemasan rokok, plat cetak, tempat oven untuk mengeringkan tembakau, alat mengaduk tembakau sebelum proses pembuatan rokok, sepeda motor merek Jawa 250 cc buatan Cekoslowakia pada 1946, konon motor ini pernah dipakai untuk pemasaran hingga 1970. foto-foto, gambar iklan dan lain-lain.
Dari lantai atas ini, pengunjung bisa menyaksikan live museum. Melihat ribuan buruh linting itu di lantai satu. Lantai dua itu berupa mezanine lebar, atau balkon kayu yang berdiri menggantung di dalam gedung. Balkon ini dibatasi dinding kaca dengan para buruh. Benar-benar atraksi paling massal yang bisa disaksikan orang umum setiap hari. Tangannya begitu terampil melinting rokok karena ternyata setiap jam mampu menghasilkan minimal 350 batang per jam per orang. Jika seorang pekerja rolls 4000 rokok per hari, dia mendapatkan 60.000 rupiah Tidak hanya melinting, namun juga memotong menyortir mengemasnya ke dalam pak rokok. caranya konfensional namun hasilnya mirip dengan rokok yang ada di pasaran. Anda tertarik? anda bisa melinting sendiri rokok kretek di beberapa pekerja yang juga menempati lantai dua itu. “Ups. Benar-benar aktraksi yang luar biasa. tangganya seperti mesin,” kata Andrew Fiore, turis Inggris, pekan lalu. Dia mengaku tidak membayangkan jika proses produksi rokok rketek tidak menggunakan mesin namun tenaga manusia. “Di negara saya mungkin cara ini terakhir dipakai tahun 1800,” katanya sambil tertawa. ****
Mulai museum, galeri seni, kafe, hingga kios cinderamata menjadi satu. Yang disaksikan baru tadi adalah museum rokok. Namun komleks ini juga sebuah museum sebelah kiri dan kanan ada bangunan kembar bekas kediaman keluarga Liem. Bangunan sebelah kiri gedung utama yang tetap menjadi tempat tinggal. di sebelah kanan menjadi kafe, di belakang kafe menjadi galeri seni. Jika berkesampatan menyusuri Jalan Kebalen Timur di samping kompleks ini, Anda akan disuguhi belasan kios milik komplkes yang menghadap jalan. Semua bangunan ini tampil dengan langgam arsitektur kuno. Termasuk kompleks gudang Sampoerna di bagian belakangan. Lantai teraso, kaca patri, pilar, tembok tebal, lampu antik, diwarnai hamparan taman Indah. Ada mobil sedan kuno merek Packard 300 V8 buatan Amerika 1941 di salah satu lorong. Pernah dipakai keluarga Liem di zaman Jepang. Antara rumah dan museum, terparkir manis sebuah Rolls Royce 1930 milik keluarga Sampoerna, waktu pendudukan Jepang sempat disita.
Bekas Panti Asuhan
Luas seluruhnya 1,3 hektare dan beralamat di Jalan Taman Sampoerna 6 Surabaya. Bangunan ini sempat merana, sejak awal 2000, PT HM Sampoerna merestorasi dan menyulap kompleks bangunan. “Sekarang ini menjadi objek wisata yang menarik banyak turis. Menjadi refrensi setiap kunjungan wisata di Surabaya,’’ kata Ina. Liem Seeng Tee yang bisnisnya berkembang dalam 20 tahun terakhir kemudian membeli kompleks ini pada 1932, Dia menempati rumah itu dan membangun pabrik di belakangnya. Namun gedung yang sekarang untuk pabrik itu justru untuk pertunjukan kesenian sampai 1961. Cita rasa Liem yang tinggi tentang kesenian tertular sampai sekarang di dalam cita rasa merk perusahaanya.
Sejak kepindahan Sampoerna ke Rungkut tahun 1970an gedung ini sempat terlantar. kamudiaan direstorasi dengan dana miliaran. “Kompleks ini dibuka pada pada 2003 bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke 90 PT HM. Sampoerna,” katanya. House of Sampoerna tentu menjadi pilihan anda ketika berlibur di Kota Pahlawan. |
| < Sebeloemnja | Berikoetnja > |
|---|