| Kliniek Priboemi di Pojokan GNI |
|
|
| Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo | |
| Minggu, 05 Oktober 2008 | |
Kompleks Gedung Nasional Indonesia (GNI) sebenarnya tidak utuh lagi. Kini hanya meninggalkan pendapa, gudang, dan makam Dr Soetomo (Pak Tom). Banyak yang sudah lepas, termasuk bangunan klinik pribumi. Untung bangunan dan fungsinya tidak berubah. Namanya Kliniek Boeboetan. Bangunan klinik ini semula bagian dari kompleks GNI.
Bangunannya berdiri di sayap selatan pendapa GNI. Ukurannya 8 X 20 meter dengan dua lantai. Kembaran bangunannya berdiri simetris di sayap utara pendapa. Semula, Pak Tom menjadikan bangunan kembaran klinik itu sebagai kantor NV Bank Nasional Indonesia, kantor redaksi Soeara Oemoem, dan majalah Panjebar Semangat (PS). Ternyata tidak hanya majalah PS peninggalan Pak Tom yang masih bertahan hingga sekarang. Klinik itu masih ada dan tetap beroperasi meskipun sudah lama 'cerai' dari induknya, GNI. Saat ini bangunan klinik dipisahkan tembok dari pendapa GNI. Seperti juga tembok yang memisahkan pendapa GNI ini dengan kantor PS. Sekarang hanya ada satu jalan menuju bekas Kliniek Boeboetan, yaitu masuk gang sempit antara kompleks GNI di bagian utara dan kantor Polresta Surabaya Utara di bagian selatan. Di gang buntu itu bisa ditemukan bangunan klinik dengan alamat Bubutan Kulon 85. Eh... ternyata masih bau obat di bekas klinik ini. Di dalamnya sekarang menjadi praktik dokter dengan nama Polikinik Umum dan Gigi PMI. Hanya merknya saja yang berubah dari sebelumnya bernama Kliniek Boeboetan menjadi poliklinik. Bangunan kuno dua lantai ini bukan sekadar balai pengobatan kebanyakan, di sini dulu dikenal sebagai pusat kebangkitan dokter Jawa yang dimotori Pak Tom periode 1930-an. Masa itu hanya ada dua tempat berobat dokter di Surabaya, yaitu Kliniek Boeboetan dan Kliniek Kedoengtoeri. Yang terakhir ini didirikan adik Pak Tom bersama empat dokter Jawa lulusan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (Stovia) Batavia. Sekilas tidak ada yang istimewa dari dua klinik ini. Karena sekarang klinik di tengah kampung menjamur. Namun, pada masa kolonial, profesi dokter hanya 'pantas' disandang orang-orang Belanda dan Tionghoa. “Dan Pak Tom adalah pelopor dokter pribumi. Beliau menempuh sekolah dokter penuh di Belanda untuk penyakit kulit dan kelamin,'' kenang Prof Indropo, guru besar ahli kulit dan kelamin Unair. Penduduk pribumi lebih memilih dukun dan tabib setiap sakit. Tidak sekadar kepercayaan, jika memilih penyembuhan nonmedis. Tetapi karena ongkos berobat yang mahal dan menerima pelayanan yang diskriminatif. Nah, demi membuat akses kesehatan rakyat, klinik pribumi perlu dibentuk Pak Tom, dengan menggalang para dokter Jawa di Bubutan dengan biaya patungan. “Saya melihat klinik itu adalah bagian dari program gerakan meningkatkan martabat pribumi yang saat itu dilecehkan karena dikenal tidak sehat,” kata Ketua Pusura Kadaruslan. ''Saya tidak tahu sejak kapan bangunan klinik itu dipisahkan tembok GNI,'' sela Kepala UPTD Balai Pemuda dan GNI, Nirwana Juda. Dia hanya mengetahui jika, GNI sebenarnya lebih luas dari yang tersisa saat ini. dua bangunan kembar itu semula milik GNI. Bahkan Pak Tom pernah berencana meluaskan GNI hingga tembus Jl Penghela. Kata Juda, rencana awal GNI di sayap kiri untuk kesehatan rakyat, sayap kanan untuk keuangan dan pendidikan. Pendapa untuk terima tamu. Halaman tengah yang saat ini menjadi makam Pak Tom adalah ruang terbuka untuk pertunjukkan dan rapat akbar. Bangunan Kliniek Boeboetan itu sebenarnya belum rampung. Ukuran panjangnya kurang sekitar 30 meter lagi. Pak Tom bermimpi klinik ini menjadi rumah sakit rakyat. Namun, pengembangan klinik tidak pernah terjadi sampai sekarang. |
| < Sebeloemnja | Berikoetnja > |
|---|