| Sejarah Pusura |
|
|
| Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo | |
| Minggu, 05 Oktober 2008 | |
Pak Tom alias dr Soetomo tampaknya tidak pernah puas memompa semangat bangsa Indonesia yang terbelakang untuk merdeka. Dua tahun menjelang kematiannya dia sempat mendirikan organisasi wong kampung bernama Pusura singatan Putra Surabaya yang masih aktif hingga kini. Padahal saat itu Pak Tom sudah diliputi setumpuk aktifitas dan dijejali segudang kesibukan. Ketua Partai Bangsa Indonesia (PBI), ketua Boedi Oetomo, Dosen Nederlandsche Indische Artesen School (NIAS), Dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin di rumah sekit simpang alias Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ), jurnalis di Panjebar Semangat dan Soera Oemoem, dan lain-lain.
Datanglah di Pusura sekarang! kantornya yang berada di depan gedung DPRD Surabaya di Jl Yos Sudarso, membuat setiap orang tidak akan tersasar. Namun siapa nyana jika di rumah pojokan ini berdiri oreganisasi tertua di Surabaya yang dibidani Pak Tom. Setiap hari di Pusura nyaris sepi. Mungkin hanya kesibukan paling besar yang dilakoni adalah mengurusi Makam Umum Tembok. Untung ada pengajian setiap pekan yang membuat kantor ini hidup. Di luar itu, Pusura nyaris tenggelam. Pusura yang saya maksud bukan nama Klinik Medis elite yang cabangnya tersebar dimana mana. Kadang orang tahu Pusura karena ’kiprah’ para anggotannya menjadi petugas keamanan partikelir. penggerak demo dan lain-lain. *** Masuklah ke ruangan ketua Pusura, Kadaruslan (Cak Kadar), dan lihatlah sebuah foto lawas berpigora di dinding. Ada baris beberapa pendiri Pusura yang gagah. Semua bakal merasa masuk di masa masa awal Pusura lahir, heroik, begitu semangat. Ini adalah organisasi lawas yang berdiri sejak 26 September 1936. Namanya saat itu dieja Poesoera (Poetra Soerabaja). Pendirinya adalah sembilan elite politik nasional asal kota ini. Di antaranya yang terkenal adalah dr Soetomo, Dr Soewandi , KH Mas Mansyur (pendiri Muhammadiyah, Roeslan Abdul Gani (politisi PNI), dan Doel Arnowo (eks wali kota). “Coba perhatikan. Pendiri Pusura itu dari beragam golongan, ada orang partai, dokter, tokoh kampung, hingga kiai NU dan Muhammadiyah,” kata Cak Kadar. Dua tahun sejak berdirinya Pusura atau pada 1938, Pak Tom wafat. Namun foto pendiri masih bisa disaksikan, catatan kejayaanya juga masih ada. Pusura didirikan karena masa tahun 1930-an Belanda sedang gencar menangkap aktivis gerakan politik melalui Dinas intelijen politik yang bernama Politieke Inlichtingen Dienst (PID) Di masa itu, para aktivis politik kemudian membelokkan pola gerakan dengan menguatkan kemampuan kaum pribumi kampung dalam wadah Pusura. Kekuatan Pusura tersebar di kampung-kampung Surabaya. Oleh karena itu, masa itu sekretariat Pusura berpindah dari kampung ke kampung sejak pertama di rumah H Iskak, di Baliwerti 44. Kiprah organisasi kala itu setidaknya bisa tergambarkan dari beberapa lembar kopi surat kabar bernama Madjalah Boelanan Oemoem Soeara Poesora. Surat kabar tahun 1939 ini aslinya berada di Belanda. Turunan majalah ini belum lama diterima Cak Kadar dari seorang dosen sejarah Unair. Berikut salah satu kutipan yang saya baca. Menoeroet poetoesan rapat anggaoeta oemoem JBL Poesoera, Madjelis BJ Ecconomi tlah membentoek badan Cooperatie, sekarang aandelan (saham. Red) soedah terdjoeal dengan harga f 2.500. Di tubuh berita ini disebutkan, Koperasi Pusura menjadi badan usaha ekonomi pribumi terbesar di Surabaya. Dari tangan empat pengusaha (Hadji Hosein, Hadji Edris, Hadji Manan, Hadji Rais Eskak). Lembaga yang bernama Madjelis Economi Poesoera ini diumumkan memiliki omzet Rp 50.000 yang saat itu ditulis sangat loewar biasa besarnja. Saat itu, Pusura tumbuh menjadi gerakan ekonomi rakyat terpesat. Tidak lama sebuah badan lahir untuk mengurusi perkulakan bahan bahan pokok. Namanya Centrale Verkoop Organisatienja. Seluruh pengusaha pribumi menjadi anggotanya. Ini terlihat dari banyaknya pemasang iklan di Soeara Poesoera yang seluruhnya pribumi. Dari 10 halaman surat kabar ini, empat halaman penuh iklan. Sebuah sekolah rakyat lahir di belakang GNI Bubutan, ambulans, dan mobil jenazah juga dimiliki Poesoera. Dari organisasi ini, kultur Sinoman dirintis. Kultur yang mewajibkan warga kampung berpatungan untuk membeli sejumlah peralatan mulai piring, gelas, meja, kursi, tenda, hingga keranda jenazah. Sebuah gerakan antikolonialisme dengan menguatkan kemampuan sendiri dibangun. Sebab sejak saat itu semua keperluan kampung cukup dipenuhi oleh kampung itu tanpa pemerintah. Kini nyaris tidak ada yang tersisa kecuali brand nama Pusura. |
| < Sebeloemnja | Berikoetnja > |
|---|