Tjinderamata Soerabaia jang paling tersohor
Moeka
Menyusuri Kampung Lahirnya NU PDF E-mail
Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo   
Senin, 03 November 2008

Image
Kantor PBNU pertama sebelum pindah di Jakarta

Ada kampung unik yang tidak boleh dilewatkan kalau berkunjung ke Surabaya. Namanya Bubutan. Inilah kampung lawas di tengah kota yang masih terjaga keorisinalitasnya. langgam arsitektur bangunnya hampir semuanya bercorak awal abad 19. Sejarah yang menyelimuti kampung ini bahkan lebih besar ketimbang panjang gang gang di Bubutan.Memasukinya, seperti melewati lorong waktu. Kembali ke satu abat lampau.

 

 

Siang kemarin saya mampir ke sebuah rumah bercat hijau di Bubutan IV/2. Saya tahu bangunan yang berdiri sejak 1899 ini adalah bekas kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pertama sebelum pindah di Bilangan Jalan Kramat Raya Jakarta tahun 1950-an.

Bekas kantor PBNU itu saat ini menjadi kantor PC (Pengurus Cabang) NU Surabaya. Dari kawasan kampung Bubutan inilah organisasi Islam terbesar di Indonesia -bahkan di dunia- ini lahir membesar hingga seperti sekarang.

Image
Rumah KH Ridwan. Disinilah NU lahir
Di gang yang sama, NU atau yang awalnya bernama Nahdlatoel Oelama (NO) lahir di rumah bernomor 20. Pada 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 (Anam, Choirul, Gerak Langkah Pemuda Ansor, Sebuah Percikan Sejarah Kelahiran,  Majalah Nahdlatul Ulama AULA  Surabaya, 1990, halaman 17).

Saya sempat diajak mengikuti khataman Quran di PCNU kemarin sore. Bulan Agustus ini adalah bulan istimewa bagi NU sehingga menurut keyakinanya wajib dilakukan pembacaan Al Quran “Karena menurut kalender Islam, 16 Rajab hijriyah, tahun 2006 ini jatuh pada 11 Agustus penanggalan masehi,” tegas Wakil Bendahara PCNU, M Solahuddin Azmi.

Gus Solahuddin (begitu dia disapa. Red), adalah cucu salah satu pendiri NU, KH Ridwan Abdullah. Kiai Ridwan adalah pemilik rumah di Jl Bubutan IV/20. Di rumah dua lantai yang kondisinya saat ini masih asli itu 70 tahun silam sejumlah kiai merumuskan berdirinya NU.

Selain kiai Ridwan, diantara yang hadir kala itu adalah KH Hasyim As’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, dan KH Mas Alwi. Kiai Ridwan yang ahli menggambar kaligrafi itu kemudian menciptakan logo NU. Gambar bumi yang diitari sembilan bintang itu dipakai NU hingga sekarang.  

Saya sampat melongok situs sejarah NU lainnya di Kawatan gang I, rumah ini saling berpunggungan dengan Bubutan IV/20. Keduanya adalah rumah tinggal Kiai Ridwan. Sebelum NU lahir, sejumlah gerakan Islam embrio NU dirintis dari kampung ini.
***

Image
Suasana Kampung Bubutan yang lengang
Hingga awal 1900-an Bubutan dikenal menjadi sentra pergerakan Islam. Semua rumah di tempat ini bergaya campuran. Arsitektur kolonial ditandai dengan posisi simetris dan pilar-pilar dari besi cor, gaya Jawa terdapat dari bentuk atap limasan, dan nafas Timur Tengah terlihat dari ragam hias yang mempercantik dinding dengan tegel teraso bermotif bunga dan sarang tawon. Hampir setiap rumah ditandai dengan prasasti tahun pembangunan dengan angka Arab di tembok atap bagian depan.
“Kampung sini dahulu dikenal dengan istilah badug dhuwur (lantai tinggi. Red). Rumah para saudagar Islam, juga tinggalnya para ahli kitab. Kalau nggak bisa ngaji sungkan (malu. Red) bertamu ke Bubutan,” kenang Gus Solahuddin.

Di rumah Bubutan IV/2 inilah, resolusi Jihad dikeluarkan PBNU yang ditandatangi oleh KH Hasyim Asyari Pada 9 November 1945. Pernyataan sikap perang inilah yang diyakini menjadi salah satu pembakar semangat perang besar 10 November di Surabaya.

Dan sekarang nikmatilah eksotisme kampung lawas ini sebelum punah oleh bangunan-bangunan baru

 
< Sebeloemnja   Berikoetnja >
 

Koleksi Atjak


622


642


603


626


Mug 002


Serie Kramat Gantoeng


648


639


Tjorong Pelanggan


Soeara Pelanggan, Soeara Radja