Tjinderamata Soerabaia jang paling tersohor
Moeka
Nasionalisme Tionghoa dari Kapasan PDF E-mail
Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo   
Senin, 24 November 2008

Image
Gang sempit pintu masuk kampung Kapasan
Jika di catatan sebelumnya saya menggambarkan tentang kampung Kapasan, saat ini saya menceritakan beberapa penghuni kampung ini yang dilupakan orang. Orang-orang yang mengukir sejarah bangsa. Yang  pertama bernama Siauw Giok Tjhan.

Dia lahir dan besar di Kapasan, 23 Maret 1914  dan meninggal Leiden, Belanda, 20 November 1981.Dari gang sempit di belakang klenteng Boen Bio, Siauw menjadi politikus pejuang dan tokoh gerakan kemerdekaan Indonesia dari golongan Tionghoa.

 

 

Ayahnya bernama Siauw Gwan Swie, seorang peranakan dan ibunya Kwan Tjian Nio, seorang totok. Memiliki adik bernama Siauw Giok Bie. Siauw pernah menjadi ketua umum Baperki, Menteri Negara, anggota BP KNIP, anggota parlemen RIS, parlemen RI sementara, anggota DPR hasil pemilu 1955/anggota Majelis Konstituante, anggota DPRGR/MPR-S, dan anggota DPA.

Warisan Siauw ialah Universitas Trisakti yang dulu didirikan oleh Baperki dengan nama Universitas Res Publika, belakangan diubah menjadi Universitas Trisakti.

Image
Siauw Giok Tjhan
Sejak kecil Siauw sudah mempunyai watak perlawanan. Siaw kecil kerap diejek kawannya dengan panggilan "Cina loleng". sapaan merandahkan ini adalah  simbul kelompok anti Tionghoa untuk merendahkan orang-orang Tionghoa. Siauw kecil yang kemahir kung-fu dari kakeknya di Kapasan kerap berkelahi melawan anak-anak Belanda, indo-Belanda dan Ambon yang mengejek dirinya.

Kedua orang tuanya meninggal dalam usia muda, ia terpaksa melepaskan sekolah begitu selesai HBS, untuk mencari nafkah meneruskan hidupnya bersama adik tunggalnya, Siauw Giok Bie yang masih harus meneruskan sekolah itu.

Ada lagi nama Liem Koen Hian, tulisan sebelumnya saya menerangkan bahwa Liemlah pendiri Partai Tionghoa Indonesia (PTI), partai kaum peranakan pertama yang menyatakan Indonesia wajib merdeka. Lawan politiknya Tiong Hwa Hwee Kian yang berkiblat ke Tiongkok dan golongan Siu Po yang condong ke Belanda.

Image
Liem Koen Hian
Liem begitu legenderis di pra kemerdekaan. Setidaknya rajutan kisah saya ini bisa menggambarkan betapa zalim orang orang yang menampikkan kisahnya.

“Masa itu organisasi Tionghoa selalu menggunakan kata-kata berbahasa China. Kiprahnya tidak lebih dari perkumpulan yang berciri kepentingan dagang, yaitu memihak semua. Namun dari tangan Liem, komunitas Tionghoa pertama kali memikirkan nasionalisme Indonesia, kewarganegaraan Indonesia atau Indische Burgenschap,” kata, Oei Hiem Hwie. Namun baru 2007 lalu cita cita itu terwujud dalam undang undang kwarganegaraan.

Siapa Liem? Menurut catatan biografinya, dia lahir di Banjarmasin pada 1896, dan pada 1915 dia tinggal di Surabaya karena menjadi wartawan harian Tjhoen Tjhioe di kota ini. Pada 1917 ia menerbitkan Mingguan Soe Liem Poo, akhir 1918 Liem pindah ke Padang dan menjadi pemimpin redaksi Sinar Soematra hingga 1921. Pada 1925 ia diminta memimpin Pewarta Soerabaia, namun justru bergabung dengan Soeara Poeblik di Surabaya hingga 1929.

Setelah mendirikan PTI dari Kapasan, Liem tetap sebagai wartawan Sin Po (Desember

1929-1932). Ia pindah sebentar ke Kong Hoa Po (April 1937 - November 1938), lalu kembali lagi ke Sin Po pada 1939 sebagai pemimpin.

Image
Gang belakang kampung Kapasan
“Majalah ini (Sin Po) paling keras pada Belanda, bercita-cita Indonesia merdeka namun dengan berkiblat ke Tiongkok. Pada 1928, warga Tionghoa pro Belanda menerbitkan majalah saingan bernama Keng Po,” kata Oei sambil menunjukkan tiga terbitan Keng Po.

Ingatan sejarah Indonesia pada Liem, bisa jadi telah hilang. Padahal, Liem pada 1930-an aktif berpropaganda antiJepang dan sempat ditahan Jepang. Pada 1945, Liem menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pimpinan Soekarno-Hatta. Pada 1947, Liem menjadi anggota delegasi RI dalam Perundingan Renville.

Tidak ada yang tahu di mana letak rumah Siauw dan Liem, saat itu. Banyak warga Kapasan menggeleng ketika ditanya soal itu.

Gang-gang di Kapasan yang sempit semakin sepi karena ditinggal sebagian besar warganya berdagang setiap siang. “Tapi, kami berusaha terus menghidupkan spirit Kapasan, di tengah jaman yang berubah,” kata Bingki di tempat terpisah.

 

 

 

 
< Sebeloemnja   Berikoetnja >
 

Koleksi Atjak


654


6072


Mug 003


04


Mug 002


P5


p11


Mug 001


Tjorong Pelanggan


Soeara Pelanggan, Soeara Radja