| Naskah Proklamasi di Gedung Pelni |
|
|
| Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo | |
| Kamis, 18 Desember 2008 | |
|
Tidak ada yang istimewa dari gedung PELNI ini kecuali bangunnya yang kuno dan kokoh. Selain itu, tampangnya lusuh. Pintunya tidak pernah dibuka, karena segela aktifitas pelni berada di gedung baru di sebelahnya. Gedung ini praktis kosong. beberapa hari kerap terdengar live musik di dalamnya. “itu latihan grup band yang akan menghibur penumpang kapal,’’ kata Supardjo, seorang penjual tiket kapal. Lebih menarik menceritakan kisah sejarah yang terjatat mewarnai perjalan di dalam gedung ini. Gedung ini begitu berjasa. naskah proklamasi pertama dari Jakarta diterima melalui kawat di gedung ini. bukan di kantor pos besar, atau di kantor berita Domei. Namun di bilik penerima surat kawat pelayaran gedung ini. Proklamasi yang dibacakan 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB, sebenarnya sudah sampai di Surabaya hari yang sama pukul 11.15 WIB. Pegawai Kantor Pelni, Markonis Jacob, menerima naskah itu dalam bentuk morse dari Kantor Berita Domei Jakarta. Kantor berita Domei di Surabaya sebenarnya terletak di Jl Tunjungan 100, sekarang telah menjadi Monumen Pers. Karena ketatnya penjagaan Jepang di setiap surat kawat yang masuk, naskah proklamasi mustahil diterima di gedung Jl Tunjungan 100. dipilihnya Gedung Pelni yang saat itu bersebelahan dengan kantor surat kabar Soera Asia. Gedung Pelni ini sebelumnya adalah kantor agen Maskapai Pelayaran Belanda alias Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM).
Dengan sembunyi-sembunyi Jacob mentraskip sandi-sandi itu dengan mesin ketik dan disebarkan secara lisan beberapa wartawan di gedung ini. Di Domei, saat itu terdapat sejumlah wartawan pejuang. di antaranya Bung Tomo yang menjadi kepala biro Domei Surabaya, RM Bintarti, Wiwiek Hidayat, A Aziz dan Toety Aziz.. Para wartawan langsung mengetik kembali naskah proklamasi itu dengan ukuran yang lebih besar kemudian ditempel di pintu depan gedung PELNI ini. Sejak saat itu jalan di depan kantor ini penuh dengan kerumunan pemuda membaca naskah itu. Suasana gaduh, di seberang gedung terdapat gedung Kampetei atau polisi rahasia Jepang. tempelan itru kemudian disobek Jepang demi kestabilan keamanan. “Namun saat itu tidak ada yang percaya bahwa Indonesia sudah merdeka. Naskah itu sempat diragukan,” kata Jacob seperti yang saya ingat. Untuk mendapatkan kebenaran, pada hari itu juga tidak sedikit orang-orang yang mendatangi Stasiun Semut, Stasiun Pasar Turi, dan Stasiun Gubeng untuk mendapatkan berita dari orang-orang yang datang dari Jakarta. Wartawan Domei ini tidak kurang akal, naskah proklamasi segera disampaikan ke Mohammad Ali, awak redaksi harian Soeara Asia. Tujuannya agar bisa dibaca orang banyak jika dimuat di koran. Kebetulan, Soera Asia berkantor di sebelah Pelni. Soeara Asia menempati bekas Gedung Soerabaiasche Handelsblad (sekarang Gedung Brantas). Saat itu, Soeara Asia adalah satu-satunya koran di Surabaya yang tidak dibredel Jepang. Penyebarannya hingga Indonesia timur. Menurut kesaksian Ali dalam bukunya bukunya, sebenarnya pada hari itu juga naskah Proklamasi harusnya sudah diketik untuk dimuat 18 Agustus 1945. Tetapi tiba-tiba ada berita bantahan dari Jakarta bahwa proklamasi sudah dibaca, hingga orang-orang di Soeara Asia menjadi ragu. Keraguan itu berlangsung sampai 19 Agustus. Setelah mendapatkan penegasan dari Ahmad, Redaktur Kawat Domei Jakarta, bahwa proklamasi itu benar, selanjutnya Soeara Asia memuatnya pada Senin 20 Agustus dengan judul Merah di Halaman Satu. Selain itu juga rilis berita proklamasi ditempel di depan Kantor Soeara Asia dengan huruf besar. Selain Proklamsi juga ditulis tentang penetapan Presiden dan Wakil Presiden, Pembukaan UUD 1945, pembagian wilayah RI dalam provinsi-provinsi. Berita Soara Asia tentang teks proklamasi ini kopinya sekarang bisa Anda nikmati di Balai Pemuda dalam ukuran asli dengan pigura. Pengacara gaek, Markus Sayogo, menemukan arsip Soera Asia edisi 20 Agustus 1945 ini di Jepang pada 2005 lalu dan membawanya ke Indonesia. |
| < Sebeloemnja | Berikoetnja > |
|---|